Filed under: Motivasi
Sumbernya: Rasa Takut
Oleh : Arvan Pradiansyah
Suami-istri pulang dari pemakaman Om Herman, yang telah hidup bersama mereka 20 tahun lamanya. Om Herman merupakan beban yang cukup berat hingga hampir menghancurkan perkawinan mereka. Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu, “Bu,” kata suaminya dengan takut-takut, “ Jika bukan karena cintaku kepadamu, aku tidak akan mau tinggal bersama Oom Hermanmu satu hari saja.”
“ Aku punya Oom Herman?! “ teriak istrinya gemetar, “Aku kira Oom Herman itu punyamu!”
Anda mungkin tertawa membaca cerita di atas. Namun, percaya atau tidak, kebanyakan kita menjalani hidup dengan berbagai rasa takut. Sayangnya, kita tak selalu menyadarinya karena rasa takut sering menyamar dalam dua bentuk: pasif dan agresif. Rasa takut pasif diwujudkan dalam bentuk menolak, melawan perubahan, menarik diri, atau ragu-ragu mengambil tindakan. Adapun rasa takut yang agresif diwujudkan dengan menuding, menuduh, memberi label bahkan menyerang orang lain. Dalam bahasa Patterson dkk. dalam buku mereka “Crucial Conversation”, perilaku yang pasif dikenal dengan istilah silence, sementara perilaku agresif disebut violence. Silence lebih sering dilakukan bawahan, sementara
violence lebih banyak dilakukan atasan. Dua perilaku ini kelihatannya sangat berbeda, tetapi sebenarnya berakar dari sesuatu yang sama: rasa takut.
Cobalah Anda ambil contoh dalam kehidupan Anda masing-masing. Kapankah terakhir kali Anda marah? Cobalah ingat-ingat lagi situasi itu, kemudian telusurilah perasaan terdalam yang Anda rasakan saat itu. Anda akan terkejut begitu menemukan bahwa ternyata penyebab Anda marah saat itu adalah rasa takut.
Marilah kita ambil contoh yang lain. Mengapa Amerika Serikat menyerang Irak? Apakah hal itu menunjukkan keberanian? Sama sekali tidak. Justru serangan tersebut adalah manifestasi rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak ada, yaitu senjata pemusnah massal. Contoh
lain, mengapa orang melakukan korupsi? Mengapa para pemimpin partai-partai saling bertikai dan saling mengklaim bahwa kepengurusannya yang paling sah? Semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu kata: takut.
Sebagai pemimpin di mana pun Anda berada, Anda akan senantiasa berurusan dengan perasaan takut. Hampir semua orang dilanda perasaan takut, Cuma intensitasnya berbeda-beda. Anda membuat kebijakan baru dan orang-orang di sekitar Anda menentangnya. Anda berbeda pendapat dengan atasan Anda dan kemudian ia marah. Anda meminta pendapat bawahan Anda dan mereka semuanya setuju dengan apa pun yang Anda katakan. Penyebab semua kejadian itu adalah rasa takut.
Maka, tugas pemimpin yang terutama adalah bagaimana meminimalisasi rasa takut, dan sebaliknya menciptakan rasa aman bagi semua orang untuk mengekspresikan dirinya dan memberikan kontribusi. Dalam berbagai pelatihan kepemimpinan, saya banyak menemukan para profesional yang mempunyai ide brilian. Mereka juga memiliki informasi dan data yang valid yang sangat berguna untuk pengambilan keputusan. Sayangnya, mereka tak berani menyampaikan pendapat mereka kepada atasan mereka. Takut apa? Ada seribu satu macam rasa takut: takut disalahkan, takut dianggap melawan atasan, takut bertindak, takut diberi label, takut atasan tersinggung, takut idenya tidak diterima, takut disepelekan, takut dianggap tidak menguasai masalah, dan sebagainya.
Namun di lain pihak, banyak pemimpin yang justru sengaja menciptakan rasa takut. Justru rasa takut inilah yang dimanfaatkannya untuk membuat orang melakukan tindakan seperti yang ia inginkan. Yang menarik, pengalaman membuktikan bahwa rasa takut justru sering efektif untuk mengubah perilaku seseorang. Bayangkan saja, kalau misalnya kita menerapkan hukuman mati bagi para koruptor. Saya yakin, persoalan korupsi di negara kita akan lebih mudah teratasi. Jadi, rasa takut sebenarnya bisa juga menjadi sesuatu yang produktif.
Namun, ada banyak persoalan dengan rasa takut. Pertama, rasa takut memang berhasil mengubah perilaku seseorang, tetapi kerap gagal mengubah paradigma seseorang. Ini membuat orang kembali ke perilaku semula kalau rasa takutnya hilang. Kedua, walaupun berhasil mengubah perilaku, rasa takut hanya membuat orang melakukan apa yang disuruh. Tidak lebih dari itu. Rasa takut tidak mungkin bisa menciptakan inovasi dan kreativitas. Ini karena rasa takut itu menyerap energi Anda. Selain itu, rasa takut juga menciptakan kebencian, kita biasanya membenci apa yang kita takuti.
Yang pasti, rasa takut sangat bertentangan dengan perkembangan organisasi yang membutuhkan pertukaran gagasan yang bebas, sehat dan dinamis. Maka, tugas pemimpin sebetulnya sangat sederhana: menghilangkan rasa takut. Begitu rasa takut ini hilang, komunikasi yang lancar akan
berlangsung dan ide-ide yang brilian pun akan bermunculan.
Menghilangkan rasa takut perlu menjadi agenda pemimpin di mana pun dia berada. Kuncinya mudah saja. Mulailah dengan mendengarkan. Jangan salah, mendengarkan yang dimaksud di sini adalah mendengarkan dengan segenap perhatian, dengan seluruh jiwa dan raga. Mendengarkan berarti
memperhatikan, peduli, berminat, turut merasakan, menanggapi, tersentuh, menghargai. Mendengarkan adalah menghentikan kepentingan kita dan menyerahkan seluruh jiwa kita kepada orang lain. Mendengarkan adalah perwujudan cinta.
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>