Mind, Body, & Soul


RENUNGAN
September 11, 2008, 6:12 am
Filed under: Renungan

RENUNGAN

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film. betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yangmenyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.

 



Membuka Pintu Hati
September 11, 2008, 6:10 am
Filed under: Motivasi

Membuka Pintu Hati

Arvan PradiansyahSekelompok orang yang baru saja meninggal mendapatkan diri mereka sedang berdiri antri di depan gerbang akhirat. Sambil menunggu pengadilan Ilahi, mereka mulai  menanyai diri mereka sendiri mengenai perilaku mereka di dunia. “Apakah dulu aku menjadi orang tua yang baik?” “Apakah aku berhasil mencapai sesuatu yang berharga dalam hidupku?” “Apakah aku rajin beribadah sepanjang malam?” “Apakah aku cukup berderma kepada fakir miskin?” Dan ketika akhirnya mereka sampai di gerbang, semua jiwa itu dihadapkan hanya pada satu pertanyaan, “Seberapa besar kamu dulu mengasihi?”

Mengasihi orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri. Perjalanan ke dalam diri memang tidak mudah. Banyak orang menyerah ketika baru memulainya. Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan. Tapi penyebab sebenarnya bukan itu. Persoalan sebenarnya adalah pintu hati kita yang tertutup, bahkan terkunci. Ini membuat telinga kita tak mendengar dan mata kita tak melihat. Kita tidak akan pernah dapat memulai perjalanan sebelum menemukan kuncinya, yaitu: Cinta dan Kasih Sayang.

Tanpa adanya rasa cinta pada sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran yang terdalam tak akan pernah terbuka. Agama-agama besar di dunia sebenarnya memiliki pesan tunggal: Kasih Sayang. Bahkan Tuhan selalu dilukiskan sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan bahasa yang berbeda semua agama selalu mengatakan: “Sayangilah orang lain! Anda belum beriman sebelum mampu menyayangi orang lain sebagaimana anda menyayangi diri anda sendiri.”

Pernyataan di atas sungguh dahsyat! Ini benar-benar menjelaskan bahwa ukuran kemajuan spiritual anda bukanlah semata-mata pada seberapa rajin anda beribadah kepada Tuhan. Esensi keberagamaan tidaklah semata-mata ditentukan oleh banyaknya ruku’ dan sujud yang anda lakukan, tetapi juga pada seberapa besar anda mengasihi orang lain. Belajar mengasihi adalah sasaran kehidupan spiritual.

Salah satu cara praktis untuk mengembangkan sikap cinta kasih adalah dengan mulai menyadari akan penderitaan. Sadar akan penderitaan – entah itu penderitaan kita sendiri atau penderitaan orang lain akan membuat hati kita melunak.

Mari kita mulai dengan sebuah cerita. Di sebuah SD, seorang guru bertanya pada murid-muridnya, “Siapa yang sudah sarapan pagi ini?” Kira-kira separo murid mengacungkan tangan. Guru itu kemudian bertanya kepada anak-anak yang tidak mengacungkan tangan, “Mengapa kalian tidak sarapan?” Sebagian menjawab tak sempat karena sudah terlambat. Sebagian lagi mengatakan belum merasa lapar, ataupun tak menyukai sarapan yang disajikan.

Semua memberikan jawaban senada kecuali satu anak. “Karena,” jawabnya, “Sekarang bukan giliran saya.”
“Bukan giliranmu?” tanya sang guru. “Apa maksudmu?”
“Dalam keluarga kami ada 4 anak,” ujarnya, “tapi ayah tak punya cukup uang untuk membeli makanan supaya tiap orang bisa sarapan setiap hari. Kami harus bergiliran dan hari ini bukan giliran saya.”

Apa yang anda rasakan ketika membaca kisah ini? Bagaimana pula perasaan anda membaca berita mengenai Heryanto (12 tahun) yang hampir tewas gantung diri di rumahnya. Ia putus asa karena orang tuanya tak mampu memberikan uang untuk tugas sekolahnya. Padahal uang yang dimintanya hanya Rp. 2.500,-!

Orang-orang seperti ini ada di sekitar kita. Tapi kadang-kadang kita tak bisa melihatnya karena mata kita tertutup. Yang sebenarnya tertutup adalah mata hati kita. Ini bisa terjadi karena hati kita dipenuhi oleh ego dan kepentingan kita sendiri. Kita terlalu banyak tertawa dan sibuk bergaul dengan orang-orang berpunya. Ini membuat hati kita tertutup.

Untuk menjalankan cinta kasih kita perlu memulai dengan mencintai diri kita, kemudian orang-orang terdekat kita. Lihatlah mereka dengan hati anda. Bukankah orang tua anda adalah orang yang rela mengorbankan hidupnya bagi anda? Bukankah pasangan anda adalah orang yang telah memilih menyerahkan hidupnya kepada anda? Bukankah anak-anak anda sangat mengidolakan anda dan merindukan kebersamaannya dengan anda? Bukankah pembantu anda adalah orang miskin yang mengabdikan hidupnya untuk melayani anda? Teruslah perluas dengan mengamati orang-orang di sekitar anda. Mereka semua memiliki penderitaan dan tantangan masing-masing.

Seorang bijak pernah mengatakan, “Ketika kamu melihat dirimu tidak berbeda dari orang lain, ketika kamu merasakan apa yang mereka rasakan, lalu siapa yang bisa kamu sakiti?”

Inilah cara menumbuhkan cinta. Kita semua sama, karena itu jangan pernah menilai orang lain dari penampilan fisiknya. Tubuh bukanlah diri kita yang sebenarnya tetapi hanya sekedar ‘sangkutan’ dari jiwa. Jiwa itulah esensi manusia yang sejati.

Tapi, merasakan baru merupakan permulaan cinta. Cinta yang sebenarnya haruslah diwujudkan dengan memberikan sesuatu kepada orang lain. Ukuran cinta adalah pemberian, sekecil apa pun bentuknya. Ibu Theresa pernah mengatakan, “Yang penting bukan seberapa besar yang kita perbuat, melainkan seberapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita.”

 

 

 



Pelajaran Pertama Kepemimpinan
September 11, 2008, 6:09 am
Filed under: Motivasi

Pelajaran Pertama Kepemimpinan

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai kepemimpinan.

Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini dengan si orang bijak. ”Aku ingin belajar padamu cara memimpin bangsaku,” katanya. Orang bijak menjawab, ”Masuklah engkau ke dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan belajar mengenai kepemimpinan.”

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari?” tanya orang bijak. ”Saya sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,” jawabnya. ”Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?” ”Saya sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir, angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,” jawabnya. ”Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah disana satu tahun lagi,” kata si orang bijak.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari,” tanya orang bijak. ”Saya sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ”Kalau begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak seraya memeluk sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali. Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka. Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan membuka telinga.

Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara, perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal: Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh orang kebanyakan.

Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang sebaliknya.

Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal ini dengan mengatakan: ”Adalah baik untuk memberi jika diminta, tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.” Kita memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari hati ke hati dengan menggunakan ”kecepatan cahaya”.

Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu. Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung, hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.

Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang-orang ini – bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun – masih ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang yang ”tuli”, ”bisu” dan ”buta”. Apalagi oleh orang yang ”buta” hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Oleh: Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!



Kemauan Untuk Berubah
September 11, 2008, 5:50 am
Filed under: Motivasi

Kemauan Untuk Berubah

“Ketika aku muda dan bebas
dan khayalan saya tidak terbatas,
aku bermimpi untuk mengubah dunia.

Saat aku tumbuh lebih dewasa dan bijak,
aku menemukan bila dunia tidak berubah,
lalu aku mempersempit pandanganku
dan memutuskan untuk mengubah hanya negaraku.
Namun itupun seperti tidak dapat digerakkan.

Ketika usiaku bertambah memasuki masa-masa senja,
Dalam suatu usaha terakhir karena terdesak,
Aku menetapkan untuk mengubah hanya keluargaku,
Merekalah yang paling dekat denganku,
Tetapi, mereka pun tidak berubah.

Dan sekarang ketika aku terbaring di liang lahatku,
Aku segera menyadari:
Jika waktu itu aku hanya merubah diriku sendiri dulu,
Kemudian memberikan contoh,
Aku mungkin dapat mengubah keluargaku.
Dengan bantuan inspirasi dan dorongan semangat mereka
aku mungkin dapat memperbaiki negaraku,
dan siapa tahu aku dapat mengubah dunia.”

Puisi ini ditulis di atas kubur seorang Anglican Bishop ( 1100 AD) di dalam makam Westminster Abbey.

 



Ibu, I Miss You So Much
September 11, 2008, 5:46 am
Filed under: Petuah

Ibu, I Miss You So Much
Jamil Azzaini – Kubik LeadershipJakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, “Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu”.
Sayapun menjawab “Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya”
Dokter itu menjawab “Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.”
“Memang harganya berapa dok?” Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab “Dua belas juta rupiah sekali suntik.”
“Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?
Dokter itu menjawab, “Sehari tiga kali suntik pak Jamil”.

Setelah menarik napas panjang saya berkata, “Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?”
Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, “Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan.”
“Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak.” jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, “Ya Allah Ya Tuhanku… aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku… gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini.”

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, “Pokoknya yang ngambil uangku kualat… yang ngambil uangku kualat…”
Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, “Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu.”
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya “Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?”

“Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil,” jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, “Ibu, maafkan saya… yang ngambil uang itu saya, bu… saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf… saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu.”
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: “Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh.”
Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata “Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu.”
Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. “Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter.”

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri sendiri “Ibu, I miss you so much.”

Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

 



Hubungan Segi Tiga
September 11, 2008, 5:44 am
Filed under: Petuah

Hubungan Segi Tiga
Arvan Pradiansyah – Swa MajalahSeperti hari-hari sebelumnya, pagi ini seorang bijak memasuki sebuah pasar. Namun, ia tidak menemukan lelaki tua yang setiap pagi selalu menyambutnya dengan kata-kata hinaan. Dari orang-orang di pasar, orang bijak ini mengetahui bahwa si lelaki tua sedang sakit. Ia kemudian memutuskan membesuk lelaki ini di rumahnya.

Ketika ditanya orang mengapa ia berbuat baik pada orang yang telah memperlakukannya dengan tidak hormat, ia hanya berkata singkat, “Ini bukanlah persoalan antara aku dan lelaki itu. Ini adalah urusanku dengan Tuhanku.”

Para pembaca yang budiman, bagaimana pendapat Anda mengenai perbuatan si orang bijak?

Inilah yang saya sebut sebagai ”hubungan segi tiga”. Dan inilah paradigma yang lebih lengkap dalam mencermati hubungan antarmanusia. Dalam tataran yang lebih komprehensif, tidak pernah ada hubungan yang terjadi semata-mata antara kita dan orang lain. Apa pun yang terjadi antara kita dan orang lain senantiasa melibatkan pihak ketiga, yaitu Tuhan. Dalam situasi sehari-hari, kita mengingat hubungan segi tiga ini hanya dalam waktu-waktu tertentu seperti perkawinan. Dua orang manusia yang menikah bersaksi dan berjanji di hadapan Tuhan. Namun, situasi ini sering kita lupakan dalam keseharian kita yang lain. Padahal, peristiwa pernikahan tersebut juga berlangsung setiap saat dalam kehidupan kita. Tak pernah ada perbuatan yang tidak mengikutsertakan Tuhan. Kita tak akan pernah dapat mengatakan, ”Ini cuma antara saya dan Anda.” Karena apa pun kondisinya, kita akan selalu berhadapan dengan hubungan segi tiga ini.

Konsekuensi kenyataan ini adalah bahwa apa pun yang kita lakukan pada seseorang pastilah akan kita pertanggungjawabkan pada orang tersebut dan Tuhan. Bahkan, pertanggungjawaban kepada Tuhan sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang pertanggungjawaban kita kepada yang lain.

Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, sering ada bagian dari kita yang menyuruh kita membalas kejahatan itu. Setiap aksi memang sering menimbulkan reaksi. Setiap stimulus pasti akan menghasilkan respons. Namun bila Anda memahami hubungan segi tiga ini, Anda akan memberikan respons yang berbeda. Bahkan, Anda akan merasa bahwa antara stimulus dan respons seolah-olah tidaklah memiliki hubungan. Orang-orang yang seperti ini sebenarnya telah mencapai puncak spiritualitas. Mereka hidup seperti Eknath Easwaran, spiritualis asal India, yang mengatakan, ”Saya tidak lagi hidup dalam dunia stimulus dan respons setiap hari, tetapi saya hidup di dunia kebebasan.”

Pemahaman terhadap adanya hubungan segi tiga ini akan benar-benar mengubah hidup Anda. Ketika ada orang yang menipu, memfitnah, menggosipkan dan berbuat jahat kepada Anda, Anda tidak akan membalas kejahatan itu dengan kejahatan yang sepadan. Ini karena Anda sadar sepenuhnya bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan Anda dan bahwa melakukan kejahatan akan merusak hubungan Anda dengan Tuhan. Anda sadar sepenuhnya bahwa membalas perbuatan jahat tidak ada hubungannya dengan perbuatan jahat itu sendiri. Anda tak membalas bukanlah karena Anda tak dapat melakukannya, tetapi karena Anda sadar bahwa Tuhan melihat Anda. Anda tak ingin sedikit pun mengecewakan Tuhan. Lebih jauh lagi, Anda tak ingin merusak harkat dan martabat Anda sendiri dengan membalas perbuatan jahat tersebut. Anda sama sekali tak ingin mencederai jiwa Anda dengan perbuatan yang akan senantiasa Anda sesali.

Pemahaman terhadap hubungan segi tiga akan membuat Anda mampu menjaga segala perbuatan Anda. Bahkan, seandainya Anda merasakan keinginan yang menggelegak untuk membalas kejahatan tersebut, pasti ada suatu kekuatan dari dalam jiwa Anda sendiri yang akan mengambil alih semua keresahan Anda dan kemudian menenangkan Anda kembali.

Saya ingin menutup tulisan saya kali ini dengan sebuah untaian kata yang sangat mencerahkan dari Ibu Theresa. Cobalah Anda baca dan resapi ungkapan yang luar biasa berikut ini, yang mampu membuat saya tergetar setiap membacanya.

”Orang kerap tak bernalar, tak logis dan egois. Biarpun begitu, maafkanlah mereka.”

”Bila engkau baik, orang mungkin akan menuduhmu menyembunyikan motif yang egois. Biarpun begitu, tetaplah bersikap baik.”

”Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal pula mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biarpun begitu, tetaplah meraih sukses.”

”Bila engkau jujur dan berterus terang, orang mungkin akan menipumu. Biarpun begitu, tetaplah jujur dan berterus terang”.

“Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam. Biarpun begitu, tetaplah membangun.”

“Bila engkau menemukan ketenangan dan kebahagiaan, orang mungkin akan iri. Biarpun begitu, tetaplah berbahagia.”

“Kebaikan yang engkau lakukan hari ini sering bakal dilupakan orang keesokan harinya. Biarpun begitu, tetaplah lakukan kebaikan.”

“Berikan pada dunia milikmu yang terbaik, dan mungkin itu tak akan pernah cukup. Biarpun begitu, tetaplah berikan pada dunia milikmu yang terbaik.”

“Ketahuilah, pada akhirnya, sesungguhnya ini semua adalah masalah antara engkau dan Tuhan; tak pernah antara engkau dan mereka.”

 



Hidup Jangan Tertidur!
September 11, 2008, 5:38 am
Filed under: Motivasi

Hidup Jangan Tertidur!
Arvan PradiansyahUntuk bisa menikmati hidup, hal terpenting yang perlu anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan “tertidur”. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan “tertidur”. Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu dimana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor PIN anda. Anda pun menyerahkan uang anda pada orang tak dikenal. Anda tahu, tapi tak sadar. Karena itu anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolahraga penting untuk kesehatan, tapi anda tak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi anda tak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tak sadar!

Ada 2 hal yang dapat membuat orang menjadi sadar. Pertama, peristiwa-peristiwa pahit dan musibah. Musibah sebenarnya adalah “rahmat terselubung” karena dapat membuat kita bangun dan sadar. Anda baru sadar pentingnya kesehatan kalau anda sakit. Anda baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol anda mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Anda baru sadar nikmatnya bekerja kalau anda di PHK. Seorang wanita karir baru menyadari bahwa keluarga lebih penting setelah anaknya terkena narkoba. Seorang supir taksi pernah bercerita bahwa ia baru menyadari bahayanya judi setelah hartanya habis.

Kematian, mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Banyak tokoh-tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, dan tiba-tiba saja mereka meninggal. Bayangkan kalau anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika tiba-tiba listrik padam. Petugas bioskop berkata, “Silahkan anda pulang, pertunjukan sudah selesai”. Anda protes bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi si penjaga hanya berkata tegas, “Pertunjukan sudah selesai, listriknya tak akan pernah hidup kembali.”

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita sering menyadarkan kita akan arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita akan betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tak sempat kita nikmati.

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokan orang. Untuk menjadi bangun kita harus sadar mengenai siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan kemana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.

Ada suatu ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de Chardin, “Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.
Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit”. Kita adalah makhluk spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita di dunia. Tubuh yang kita miliki sebenarnya hanyalah rumah sementara bagi jiwa kita. Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tetapi tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tidak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan “rumah” untuk mencari “rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tidak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Coba anda resapi paragraf di atas dalam-dalam. Badan kita akan mati, tetapi jiwa kita akan hidup. Kalau anda menyadari hal ini, anda tak menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya. Apabila anda sudah mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa lagi sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan – apalagi dengan menyalahgunakan jabatan – kalau hasilnya tak dapat anda nikmati selama-lamanya. Apalagi anda sudah merusak jiwa anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal jiwa itulah milik kita yang abadi.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya: Ya!
Tapi kalau anda merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah: Belajarlah MENDENGARKAN. Dengarlah dan belajarlah dari pengalaman orang lain. Bukalah mata dan hati anda untuk mengerti, mendengarkan dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma anda.

Sayangnya banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sendiri. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya bangun.

 



Sumbernya: Rasa Takut
September 11, 2008, 5:37 am
Filed under: Motivasi

Sumbernya: Rasa Takut

Oleh : Arvan Pradiansyah

 

Suami-istri pulang dari pemakaman Om Herman, yang telah hidup bersama mereka 20 tahun lamanya. Om Herman merupakan beban yang cukup berat hingga hampir menghancurkan perkawinan mereka. Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu, “Bu,”  kata suaminya dengan takut-takut, “ Jika bukan karena cintaku kepadamu, aku tidak akan mau tinggal bersama Oom Hermanmu satu hari saja.”

 

“ Aku punya Oom Herman?! “ teriak istrinya gemetar, “Aku kira Oom Herman itu punyamu!”

 

Anda mungkin tertawa membaca cerita di atas. Namun, percaya atau tidak, kebanyakan kita menjalani hidup dengan berbagai rasa takut. Sayangnya, kita tak selalu menyadarinya karena rasa takut sering menyamar dalam dua bentuk: pasif dan agresif. Rasa takut pasif diwujudkan dalam bentuk menolak, melawan perubahan, menarik diri,  atau ragu-ragu mengambil tindakan. Adapun rasa takut yang agresif diwujudkan dengan menuding, menuduh, memberi label bahkan menyerang orang lain. Dalam bahasa Patterson dkk. dalam buku mereka “Crucial Conversation”, perilaku yang pasif dikenal dengan istilah silence, sementara perilaku agresif disebut violence. Silence lebih sering dilakukan bawahan, sementara

violence lebih banyak dilakukan atasan. Dua perilaku ini kelihatannya sangat berbeda, tetapi sebenarnya berakar dari sesuatu yang sama: rasa takut.

 

Cobalah Anda ambil contoh dalam kehidupan Anda masing-masing. Kapankah terakhir kali Anda marah? Cobalah ingat-ingat lagi situasi itu, kemudian telusurilah perasaan terdalam yang Anda rasakan saat itu. Anda akan terkejut begitu menemukan bahwa ternyata penyebab Anda marah saat itu adalah rasa takut.

 

Marilah kita ambil contoh yang lain. Mengapa Amerika Serikat menyerang Irak? Apakah hal itu menunjukkan keberanian? Sama sekali tidak. Justru serangan tersebut adalah manifestasi rasa takut yang luar biasa terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak ada, yaitu senjata pemusnah massal. Contoh

lain, mengapa orang melakukan korupsi? Mengapa para pemimpin partai-partai saling bertikai dan saling mengklaim bahwa kepengurusannya yang paling sah? Semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu kata: takut.

 

Sebagai pemimpin di mana pun Anda berada, Anda akan senantiasa berurusan dengan perasaan takut. Hampir semua orang dilanda perasaan takut, Cuma intensitasnya berbeda-beda. Anda membuat kebijakan baru dan orang-orang di sekitar Anda menentangnya. Anda berbeda pendapat dengan atasan Anda dan kemudian ia marah. Anda meminta pendapat bawahan Anda dan mereka semuanya setuju dengan apa pun yang Anda katakan. Penyebab semua kejadian itu adalah rasa takut.

 

Maka, tugas pemimpin yang terutama adalah bagaimana meminimalisasi rasa takut, dan sebaliknya menciptakan rasa aman bagi semua orang untuk mengekspresikan dirinya dan memberikan kontribusi. Dalam berbagai pelatihan kepemimpinan, saya banyak menemukan para profesional yang mempunyai ide brilian. Mereka juga memiliki informasi dan data yang valid yang sangat berguna untuk pengambilan keputusan. Sayangnya, mereka tak berani menyampaikan pendapat mereka kepada atasan mereka. Takut apa? Ada seribu satu macam rasa takut: takut disalahkan, takut dianggap melawan atasan, takut bertindak, takut diberi label, takut atasan tersinggung, takut idenya tidak diterima, takut disepelekan, takut dianggap tidak menguasai masalah, dan sebagainya.

 

Namun di lain pihak, banyak pemimpin yang justru sengaja menciptakan rasa takut. Justru rasa takut inilah yang dimanfaatkannya untuk membuat orang melakukan tindakan seperti yang ia inginkan. Yang menarik, pengalaman membuktikan bahwa rasa takut justru sering efektif untuk mengubah perilaku seseorang. Bayangkan saja, kalau misalnya kita menerapkan hukuman mati bagi para koruptor. Saya yakin, persoalan korupsi di negara kita akan lebih mudah teratasi. Jadi, rasa takut sebenarnya bisa juga menjadi sesuatu yang produktif.

 

Namun, ada banyak persoalan dengan rasa takut. Pertama, rasa takut memang berhasil mengubah perilaku seseorang, tetapi kerap gagal mengubah paradigma seseorang. Ini membuat orang kembali ke perilaku semula kalau rasa takutnya hilang. Kedua, walaupun berhasil mengubah perilaku, rasa takut hanya membuat orang melakukan apa yang disuruh. Tidak lebih dari itu. Rasa takut tidak mungkin bisa menciptakan inovasi dan kreativitas. Ini karena rasa takut itu menyerap energi Anda. Selain itu, rasa takut juga menciptakan kebencian, kita biasanya membenci apa yang kita takuti.

 

Yang pasti, rasa takut sangat bertentangan dengan perkembangan organisasi yang membutuhkan pertukaran gagasan yang bebas, sehat dan dinamis. Maka, tugas pemimpin sebetulnya sangat sederhana: menghilangkan rasa takut. Begitu rasa takut ini hilang, komunikasi yang lancar akan

berlangsung dan ide-ide yang brilian pun akan bermunculan.

 

Menghilangkan rasa takut perlu menjadi agenda pemimpin di mana pun dia berada. Kuncinya mudah saja. Mulailah dengan mendengarkan. Jangan salah, mendengarkan yang dimaksud di sini adalah mendengarkan dengan segenap perhatian, dengan seluruh jiwa dan raga. Mendengarkan berarti

memperhatikan, peduli, berminat, turut merasakan, menanggapi, tersentuh, menghargai. Mendengarkan adalah menghentikan kepentingan kita dan menyerahkan seluruh jiwa kita kepada orang lain. Mendengarkan adalah perwujudan cinta.



Ketika Aku Sudah Tua
September 11, 2008, 4:47 am
Filed under: Petuah

KETIKA AKU SUDAH TUA

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.



Be Here Right Now
September 11, 2008, 4:47 am
Filed under: Motivasi

Be Here Right Now

Oleh : Arvan Pradiansyah

Dua astronot mendapatkan tugas melakukan penelitian di bulan. Ketika kembali ke bumi, salah seorang di antaranya menceritakan bagaimana ia harus menekan naluri seninya ketika sampai di sana.

Ia ingat ketika ia melihat kembali ke bumi dan tertegun oleh pemandangan itu. Beberapa saat ia berdiri terpaku dan berpikir, Bukan main, sungguh indah!

Namun, kawannya segera menyadarkannya dan berkata, Jangan buang-buang waktu. Mari segera mengumpulkan batu!

Cerita tadi sebenarnya menggambarkan apa yang kita alami sebagai manusia modern. Kita harus berpikir cepat dan bergerak cepat, bahkan kadang kita bergerak tanpa banyak berpikir. Moto kita adalah lebih cepat, lebih murah, lebih baik. Karena itu, berpikir, belajar, merenung, berkontemplasi dan rekreasi sering dianggap sebagai kegiatan yang menghabiskan waktu dan tidak produktif.

Hal ini akan menjadi berlipat ganda bagi para pengusaha, mereka yang terlibat dalam bisnis inti serta mereka yang menangani penjualan. Bisnis memang sering membuat kita berorientasi pada kegiatan. Kita berusaha sedapat mungkin supaya jangan ada sedikit pun waktu terbuang tanpa melakukan kegiatan. Kita terus berjalan, bergerak, mencari peluang, menembus pasar, mengalahkan pesaing dengan kecepatan yang bertambah dari hari ke hari.

Apakah semua itu memberikan hasil yang kita inginkan? Secara jangka pendek, mungkin ya. Namun, secara jangka panjang, Anda harus membayar harganya sangat mahal. Beberapa di antara Anda barangkali akan membantah keras pernyataan saya ini. Namun tunggu dulu, saya jelaskan apa yang saya maksud.

Harga pertama yang harus kita bayar adalah berkurangnya kemampuan kreativitas dan inovasi. Ini risiko yang terkait langsung dengan kegiatan bisnis itu sendiri. Kegiatan bisnis yang bertubi-tubi telah
menyandera pemikiran kita. Kita jadi lupa meluangkan waktu sejenak untuk berpikir dan merefleksikan tindakan kita. Kita akhirnya hanya menjadi robot dari target-target kita. Kita hanya melakukan business as usual. Benar, kita menjadi sangat tangguh, disiplin dan memiliki motivasi yang tinggi. Akan tetapi, lama- kelamaan produk kita menjadi aus dan ketinggalan zaman. Makin cepat tidaklah akan menjadi makin baik kalau kita bergerak ke arah yang salah. Bisnis sering hanya memikirkan jam dan lupa memikirkan kompas.

Harga kedua yang harus Anda bayar adalah berkurangnya kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup Anda. Padahal, apa yang Anda cari di dunia ini: pekerjaan ataukah kebahagiaan? Di sini juga ada rumus menarik. Sementara bisnis identik dengan kecepatan, kebahagiaan justru identik dengan kelambatan. Jangan salah, yang dimaksud bukanlah kelambatan yang berarti lamban, lelet atau telmi. Kelambatan di sini adalah sikap hidup yang mantap, penuh dan tidak tergesa-gesa. Kelambatan adalah sesuatu yang sangat bermakna spiritual dan berkaitan dengan kebahagiaan hidup.

Agar bisa berbahagia, yang harus kita lakukan sebenarnya bukanlah berjalan lebih cepat, tapi justru berjalan lebih lambat. Di kantor-kantor yang sangat sibuk sekarang sudah ada kebiasaan melakukan lunch meeting, yaitu makan siang sambil rapat. Pertanyaannya, dapatkah mereka menikmati makan siang? Boleh saja Anda mengatakan bahwa yang penting perut Anda sudah terisi, tapi sebetulnya Anda kehilangan kenikmatannya. Yang Anda lakukan bukanlah menikmati makan siang, melainkan hanya menelan makanan. Ritme hidup yang selalu tergesa-gesa ini juga menghalangi Anda menikmati hubungan yang berkualitas dengan rekan kerja. Hubungan yang berkualitas tidaklah dibangun dengan kecepatan, tetapi dengan kelambatan. Anda harus membangun kepercayaan secara perlahan, bersabar untuk mendengarkan apa yang mereka inginkan, dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran Anda secara perlahan. Hubungan yang berkualitas adalah hubungan yang didasari kesabaran. Dan kesabaran identik dengan kelambatan, bukan kecepatan.

Inilah cara hidup yang berkualitas. Inilah hidup dengan penuh kesabaran. Yang terpenting, kesabaran bukanlah berarti mengurut dada seperti yang selama ini sering dikatakan orang. Kesabaran adalah rahasia terpenting menikmati hidup yang berkualitas. Hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang menikmati detik demi detik. Hidup yang berkualitas adalah hidup yang mengalir perlahan, bukannya hidup yang senantiasa dilanda ketergesa-gesaan. Inilah hidup yang dijalankan dengan sabar. Sabar adalah kenikmatan luar biasa. Sabar bahkan merupakan kunci utama memasuki spiritualitas. Kita memang perlu memberikan makna baru pada kata ?sabar?. Inilah yang sedang saya tulis dalam buku The 7 Laws of Happiness yang segera terbit. Dalam buku tersebut, saya menuliskan 8 makna baru kesabaran.

Untuk dapat menikmati hidup, Anda harus hidup di masa kini. Anda harus menjadi human being, Anda harus merasakan kekinian. Mengapa? Hanya masa kinilah yang nyata, yang sungguh-sungguh ada. Bagaimana dengan masa depan? Saya akan mengatakannya dengan sungguh-sungguh kepada Anda bahwa masa depan itu tidaklah nyata. Masa depan hanyalah ada dalam pikiran kita. Hal ini juga sama dengan masa lalu. Masa lalu juga tidak nyata.

Dari sini kita dapat membedakan tiga jenis manusia. Pertama, orang yang hidup di masa lalu. Orang ini tak akan pernah maju karena telah mengikat pikirannya dengan hal-hal yang telah usang. Kebalikan dari tipe ini
adalah pebisnis dan profesional yang selalu tergesa-gesa dalam hidupnya. Mereka memang terus maju, tapi persoalannya, mereka tak pernah berada di masa kini. Mereka senantiasa hidup di masa depan yang juga tidak nyata. Kedua tipe ini tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Kita hanya akan menikmati kebahagiaan kalau kita mengikat pikiran kita dengan masa kini dan menikmati segala yang mengalir dengan penuh keindahan.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.